Suatu siang saya menerima telepon. Dari seberang seorang laki-laki berkata ” Apa kabar Pak Cholik. Saya Edi…. ( dia menyebut nama mantan pejabat militer yang dulu saya kenal di Balikpapan). Saya sudah purna dan diminta Pak…..( dia menyebut nama seorang Pejabat Pemda DKI) untuk memegang DPP…(menyebut nama partai ). Kami akan menyelenggarakan pembagian sembako untuk kaum duafa. Pak Cholik mau ambil berapa paket ? 20 paket cukup ?”
Wah…. ini dia. Saya bukannya orang yang pelit untuk membantu sesama namun saya perlu lebih jelas tentang program itu. Lalu saya bertanya ” Satu paketnya berapa mas ? ” Dia jawab : “ Rp.250.000 “
Saya katakan saya ambil 5 paket saja . Eh laki-laki tadi mulai tawar-menawar :” Bagaimana kalo 10 paket biar gampang ngitungnya ”
Disini saya mulai curiga, masa pejabat tinggi kok nawar-nawar gitu. Pasti orang ini mengaku-ngaku sebagai sang pejabat yang saya kenal itu. Soal dia tahu namaku kan memang gampang. Lihat saja di buku telepon instansiku.
Namun saya tetap ambil 5 paket hitung-hitung nyumbang orang. Itupun saya harus mengambil uang tabungan yang rencananya akan digunakan untuk THR anggota nanti. Dia bilang ” Nanti saya suruh staf saya ambil uangnya , dikantor ketemu sama siapa ??” Saya informasikan agar orang suruhannya menemui Kasubbag di kantorku.
Setelah itu saya panggil Kasubbag dan saya arahkan ” Kalau ada yang ambil uang sembako bilang aja gak ada duit ”
Kalau dia ngerjain saya maka ganti dia yang saya kerjain. Kasihan ya orang yang jadi suruhannya, sudah ber-panas-2 ria datang ke kantorku ternyata nggak dapat duit.
Kasus-kasus seperti itu sering menimpa saya. Dia pasti sering menilpuni pejabat lain dengan maksud yang sama yaitu membuat kegiatan fiktif untuk mendapatkan keuntungan.
Catatan : ditipu itu rasanya ndongkol banget karena kita serius ehhh dibelakang pasti dia jingkrak-jingkrak sambil ngomong ” Dasar pejabat bodo, ditipu kok mau…aciaaaan deh kamu “
Makanya jangan coba-coba menipu saya.



Recent Comments